Author: sananda

Ulasan Film 212 The Power of Love

Nampaknya euforia yang mana melingkupi film 212 The Power of Love sebelum film tersebut tayang sepertinya bisa dibilang berlebihan. Seperti yang diketahui film itu terinspirasi dari kisah nyata Aksi Bela Islam 212. Namun film yang terinspirasi dari kisah itu cuma menjadikan peristiwa Aksi Bela Islam tersebut sebagai latar dan terjebak saja di konflik karakter utamanya.

Karakter Utama 212 The Power of Love

Film tersebut pasalnya berpusat pada karakter Rahmat yang diperankan oleh Fauzi Baadila yang menjadi jurnalis majalah Republik yan tidak percaya pada ajaran agama. Karakternya di sana digambarkan sebagai sosk yang dingin serta idealis dan dicoba dibangun dengan kuat juga lewat fakta bahwasanya ia merupakan lulusan terbaik dari Universitas Harvard dan pengagum sosok Karl Marx.

Akan tetapi penggambaran bahwa karakter Rahmat setuju dengan pernyataan Marx yakni “agama adalah candu” nampaknya kurang dieksplorasi. Di Film itu ia hanya diperlihatkan sedang mencari wajah Marx lewat Google menggunakan komputer di kantornya. Argumennya pada rapat redaksi juga seakan-akan terpaksa dihubungkan dengan gagasan Marx.

Dari pengenalan karakter Rahmat sebagai seorang jurnalis terbaik di Indonesia di mana kantornya di Jakarta, akhirnya film ini mengantar para penontonya ke Ciamis yang merupakan kampung halaman Rahmat. Ia terpaksa harus pulang ke Ciamis karena ibunya meninggal. Padahal, ia sudah 10 tahun tak pulang dan menemui keluarganya dan ia juga  memiliki konflik dengan ayahnya.

Tak ayal, pertemuan Rahmat dengan ayahnya diwarnai dengan ketegangan terutama saat ia mendengar ayahnya akan ikut aksi 212 yang ada di Jakarta. Karena ayahnya sudah sakit-sakitan, ayahnya melarang. Namun ayahnya nekat jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta untuk tetap ikut aksi tersebut.

Rahmat yang pada awalnya tak percaya pada agama pun akhirnya harus mau terjebak di aksi yang menuntut para penegak hukum memproses pejabat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta karena adanya kasus  penistaan agama itu. Ia ikut demi menjaga ayahnya dan membujuknya juga agar tak ikut aksi itu lebih dalam lagi.

Konflik Tak dikembangkan

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, sutradara film ini, Jastis Arimba, seolah hanya berputar pada konflik keluarga antara Rahmat dan juga keluarganya yang tidak kunjung usai. Aksi 212 yang mana menjadi judulnya malahan hanya menjadi latar dan penguat konfliknya sana yang sayang sekali tak sekaligus jadi solusi hubungan mereka berdua.

Film itu juga seolah tak berhasil menyampaikan pesan-pesannya. “The Power of Love” atau kekuatan cinta itu sendiri padahal dijadikan judul, namun  seakan dipaksakan masuk ke dalam film itu lewat satu karakter saja. Hasilnya adalah konflik yang berkepanjangan dan juga mudah sekali ditebak itu membuat film ini terasa seperti sinetron. Meskipun film tersebut tentunya sarat nilai baik nilai agama dan sosial, cinta serta keluarga.

Akan tetapi sayangnya Jastis yang mana dibantu oleh Ali Eunoia yang jadi penulis naskahnya, tak menggarap film ini dengan mulus dari segi tekniknya. Ada beberapa adegan percakapan yang amat terasa bahwa dialognya didubbing. Hal itu bisa terlihat dengan sangat jelas karena gerakan mulut dan suara tidak sesuai.

Sutradara juga terkesan kurang memperhatikan logika waktu dalam film itu. Ada satu buah adegan di mana Rahmat nonton berita di malam hari akan tetapi  laporan di TV malah siang padahal ada tulisan ‘live‘ di atasnya.

Jelajahi Mars, NASA Siap Kirim Robot Mata-Mata Baru Yang Canggih

Sejauh ini yang diketahui manusia, Bumi adalah satu-satunya planet di alam semesta yang dihuni makhluk hidup. Namun hal itu tak membuat sekelompok manusia seperti Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berdiam diri. Sebagai badan antariksa terhebat di dunia, NASA selalu melakukan ekspedisi luar angkasa untuk mencari kemungkinan planet lain yang bisa dihuni manusia. Salah satu planet yang jadi incaran adalah si planet merah, Mars.

 

Demi melihat kemungkinan itu, NASA pada hari Sabtu (5/5) kembali meluncurkan misi baru penjelajah Mars lewat Insight. Diluncurkan pada pukul 04.05 dini hari waktu Pasifik di Pangkalan Angkatan Udara Vanderberg, California, Amerika Serikat, Insight menumpang roket agen togel terpercaya Atlas V. Insight sendiri jadi misi kedua NASA mengirim robot mereka ke Mars setelah pada 2012 silam meluncurkan rover Curiosity.

 

Jika sesuai jadwal, Insight akan tiba di Mars pada 26 November 2018. Jika Curiosity menjelajahi permukaan Mars, Insight yang dibuat dengan biaya USD 993 juta (sekitar Rp 13 triliun) itu akan jadi ahli geologi dan menyelidiki bagian perut Mars. Untuk itulah Insight dibekali seismometer buatan Inggris karena ilmuwan NASA mencatat kalau ada gempa dan tanah longsor di Mars.

 

Sementara itu pada Juli 2020 nanti, NASA akan mengirimkan robot Mars 2020 yang bakal jadi mata-mata baru manusia Bumi. Robot beroda enam ini akan mengumpulkan contoh tanah dan batuan Mars. Dibandingkan kendaraan penjelajah ruang angkasa (rover) lainnya, Mars 2020 dibekali teknologi modern seperti 23 buah kamera canggih. Nantinya Mars 2020 akan bisa mengirim foto dan informasi dari Mars secara langsung dan bisa dinikmati di waktu yang sama oleh siapapun di Bumi.

 

Perjalanan ke Mars Bahaya Bagi Otak Manusia

 

Dengan berbagai misi yang sudah dikirimkan, problem terbesar adalah membawa manusia ke Mars dan memulangkannya lagi dengan selamat ke Bumi. Kendala terbesar jelas pada teknis dan tentunya keuangan. Meskipun begitu, Allison McIntyre selaku Kepala Pelatihan Astronot NASA berharap kalau manusia pertama yang bisa menjejakkan kaki di Mars adalah seorang perempuan. Karena memang 12 manusia yang menginjakkan kaki di bulan, semuanya adalah pria.

 

Namun dalam jurnal medis yang diterbitkan NASA pada November 2017 lalu, terungkap bahwa gaya gravitasi Mars yang kurang dari Bumi bisa berdampak buruk ke otak manusia. Kondisi yang disebut mikrogravitasi itu bisa membuat otak manusia bergeser ke atas dan terjepit di bagian atas tengkorak yang mampu menimbulkan tekanan pada daerah syaraf yang penting. Kedua bagian yang berpengaruh adalah Lobus Frontal dan Parietal yang bertanggung jawab mengendalikan gerakan tubuh dan fungsi penting lain yang berkaitan dengan perilaku pro-sosial.

 

Studi Baru Soal Mars Mulai Bulan – Danau Purba

 

Meskipun masih belum bisa dipastikan kapan manusia Bumi bisa ke Mars, para ilmuwan angkasa terus meneliti planet yang memiliki dua bulan bernama Phobos dan Deimos itu. Dalam jurnal Science Advances yang diterbitkan pertengahan April 2018, terungkap kalau kedua bulan Mars muncul setelah ada benda luar angkasa raksasa menabrak Mars, seperti dilansir The Independent. Teori ini membuat Badan Antariksa Jepang (MMX) berencana meluncurkan misi ke Phobos dan Deimos pada 2024.

 

Kemudian dalam jurnal Geology, terungkap pula bahwa Mars memiliki cekungan besar pada permukaannya yang disinyalir sebagai danau purba yang sudah mengering sejak miliaran tahun lalu karena atmosfer dan gravitasi Mars lebih rendah.

« Previous Page